SEKOLAH MONTESSORI

BELAJAR MEMBACA DAN MENULIS
Methode Montessori

Judul Asli: A Parent’s Guode To The Montessori Class Room
Alihbahasa: Fury Qonzano
Penulis Aline D. Wolf
Penerbit Taman Baca DE-5 Jakarta

Kata Pengantar

Buku ini menjabarkan secara rinci program Montessori untuk anak berusia tiga sampai dengan enam tahun. Buku in disusun untuk memudahkan Anda, para orang tua untuk memahami tujuan jangka panjang pendidikan Montessori dan memberikan anda deskripsi mengenai bahan atau perlengkapan yang dibutuhkan anak-anak anda menjelang usia tiga tahun (Pra sekolah)

Di masa datang, tidak menutup kemungkinan informasi ini menjadi begitu penting dan menarik para guru yang ingin mengetahui secara rinci pengalaman belajar di masa kanak-kanak..

DR. Maria Montessori (1870-1952) seorang ahli fisika berkebangsaan italic yang merumuskan methode ini, memiliki keahlian khusus dalam mengobservasi dunia anak. Tulisan DR. Maria Montessori memberikan suatu manfaat besar baik orang tua maupun guru terhadap tumbuh kembang anak secara natural sejak lahir hingga dewasa. Materi kelas merupakan implementasi salahsatu aspek philosophinya secara menyeluruh.

Untuk melengkapi deskripsi materi dalam buku ini, disarankan kepada orang tua atau guru untuk membaca salah satu buku yang menjelaskan teopri Montessori tersebut. Salah satu yang berikut akan membantu:

• The Absorbment Mind by Maria Montessori
• The Secret of Children by Maria Motessori
• Maria Montessori, Her Life and Work by EM Standing
• Maria Montessori, A Biiography, by Rota Kremer

Tujuan pendidikan Montessori
DR. Montessori meyakini bahwa tak ada manusia yang terdidik dan berhasil dengan baik kecuali oleh orang lain. Manusia harus melakukan sendiri untuk keberhasilan itu atau tidak sama sekali. Manusia yang betul-betul terdidik terus melanjutkan proses belajar lebih lama lagi dibandingkan dengan waktu yang telah dihabiskan di sekolah. Hal ini disebabkan adanya motivasi dari dalam dirinya dan keingin tahuan secara natural dan tentu saja, karena cinta ilmu pengetahuan.

Oleh karena itu, Dr.Montessori menekankan agar tujuan pendidikan di masa kanak – kanak hendaklah tidak menjejalinya dengan rangkaian bidang studi pra sekolah, namun akan lebih baik dengan mengkultivasi keinginan atau hasrat belajar anak secara natural.

Dalam sekolah Montessori, tujuan ini mengambil dua pendekatan. Pertama, memberi kebebasan setiap anak mengekspresikan kegembiraan belajar melalui pilihannya sendiri bukan dengan menciptakan suasana tertekan. Kedua, membantunya menyempurnakan perangkat dasar belajar sehingga dengan demikian pada kondisi belajar berikutnya kecakapan anak meningkat. Materi Montessori memiliki dua tujuan. Tujuan jangka pendek dan jangka panjang.

Fungsi materi didasari oleh keunikan belajar seorang anak yang oleh Montessori dilukiskan sebagai “The Absorbment Mind”. Dalam tulisannya dia membandingkan konsep pemikiran seorang anak dengan sebuah bunga karang. Konsep bunga adalah menyerap informasi dari lingkungan sekitarnya. Proses tersebut dapat dilihat lebih kelas khususnya pada cara bagaimana seorang anak dua tahun mempelajari bahasa ibu tanpa melalui instruksi formal, tanpa sadar dan tanpa kerja yang melelahkan sebagaimana orang tua merasakannya saat mempelajari suatu bahasa. Memperoleh informasi semacam ini, merupakan cara alami dan menyenangkan anak yang pada dasarnya senantiasa ingin mencurahkan seluruh perasaannya untuk mencermati lingkungan.

Karena anak memiliki kemampuan belajar dengan cara menyerap hingga pada usianya tujuh tahun, Dr. Montessori menuturkan bahwa pengalamannya tersebut dapat diperkaya di kelas dengan materi yang mengandung informasi atau penjelasan tentang pendidikan yang paling mendasar.

Lebih dari enampuluh tahun pengalaman telah membuktikan bahwa seorang anak dapat membaca, menulis dan menghitung melalui cara alami sebagaimana pada saat anak belajar berjalan dan bicara. Di kelas Montessori, alat peraga memiliki daya tarik yang sangat memikat sehingga mengundang anak untuk melakukan hal-hal tersebut dalam suatu masa yang kita kenal dengan “Period of Interest and Readiness” yang muncul dari dalam diri anak itu sendiri.
Dr. Montessori menekankan bahwa “Hand is the Chief of The Child”. Tangan merupakan bagian yang teramat penting bagi seorang anak. Untuk belajar, harus ada konsentrasi. Cara terbaik berkonsntrasi seorang anak adalah dengan menetapkan perhatiannya pada beberapa tugas yang dilakukan. Seluruh alat peraga di kelas Montessori menguatkan perhatian anak yang belum menetap itu dengan mengajaknya menggunakan tangan pada saat belajar.

PENTINGNYA MASA ANAK-ANAK
Dalam”The Absorbment Mind”, Dr. Montessori menulis, periode kehidupan yang terpenting bukanlah pada usia belajar di Perguruan Tnggi. Namun, periode terpenting itu adalah eriode sejak lahir hingga usia enam tahun, karena pada periode inilah kecerdasan terbentuk. Bahkan bukan saja kecerdasan tetapi potensi fisiknya secara keseluruhan.

Studi psikologi berdasar penelitian yang cermat telah memperkuat teori Montessori tersebut. Setelah menganalisa studi seperti itu ribuan kali, Dr. Montessori dan Dr. Benjamin S. Bloom dari Universitas Chicago menulis dalam bukunya “Stability and Change in Human Characteristics”, dari masa pembuahan data kehamilan hingga usia empat tahun, manusia mengembangkan 50% kecerdasan maturitas sedangkan dari usia empat hingga delapan tahun, manusia mengembangkan 30% yang lainnya. Hal ini menunjukkan adanya perkembangan yang sangat pesat pada masa anak-anak-yang sangat mungkin berpengaruh besar pada lingkungannya.

Seperti halnya Dr. Monteesori, Cr. Bloom meyakini bahwa lingkungan memiliki pengaruh yang kuat terhadap sifat tertentu selama masa pertumbuhan. Sebagai contoh, diet menahan lapar tidak akan berpengaruh pada usia 18 tahun, namun sangat berpengaruh dan memperlambat pertumbuhan bayi yang baru berusia satu tahun-karena 80% pertumbuhan dan perkembangan mental seorang anak terbentuk sebelum usia delapan tahun.

PERIODE SENSITIF
Observasi Dr. Montesori lainnya yang telah diperkuat oleh riset modern adalah perlu adanya sensitive period untuk proses belajar di masa kanak-kanak. Periode ini merupakan saat ketertarikan kuat seorang untuk mempelajari keterampilan dan sifat tertentu seperti naik-turun, meletakkan sesuatu dengan rapi, menghitung atau membaca. Pada sensitive periode ini anak lebih mudah mempelajari suatu keahlian tertentu dibanding pada saat lain dalam kehidupannya.

PADA USIA BERAPA?
Walau usia masuk sekolah berbeda satu sama lain, seorang anak boleh memasuki kelas Montessori pada usia dua setengah hingga empat tahun tergantung kapan anak tersebut memperoleh rasa senang terhadap situasi dan kondisi kelas. Dia memulai latihan paling mudah berdasarkan aktifitas yang paling disukainya. Peralatan yang digunakan pada usia tiga sampai empat tahun akan membantu perkembangan daya konsentrasi, kerjasama dan terbiasa bekerja, yang dibutuhkan untuk pelatihan yang nantinya diaplikasikan pada usia lima dan enam tahun. Semua program pembelajaran disusun secara terencana dan terpadu. Oleh karena itu hasil yang optimal tidak bisa diperoleh dari seorang anak pendiam apa lagi anak yang kehilangan seluruh masa kanak-kanak.

Orang tua seharusnya memahami bahwa sekolah Montessori ini bukan merupakan lembaga jasa baby sitter atau lembaga play group yang mempersiapakan anak menuju jenjang taman kanak-kanak. Namun lembaga ini lebih merupakan lingkungan belajar yang unik; yang didesain untuk menggali sensitive periode seorang anak antara tiga dan lima tahun-saat di mana anak-anak menyerap informasi dari lingkungannya. Seorang anak yang memperoleh basic skill dalam membaca dan menghitung dengan cara yang alami, akan memiliki kemudahan untuk memulai pendidikannya tanpa kerja yang membosankan, jenuh dan putus asa. Dengan memancing minat seorang anak di kelas Montessori, dia akan mendapatkan semangat belajar sebagai kunci baginya menjadi pandai dan terdidik.

SITUASI DAN KONDISI KELAS
Kelas Montessori adalah dunia anak yang lengkap dengan ukuran, tahapan dan minat dengan anak pada kisaran usia tiga dan enam tahun. Kelas ini didesain sehingga anak-anak gembira dan nyaman dengan memberinya kebebasan dalam sebuah lingkungan yang dilengkapi bahan ajar yang menarik. Bahan-bahan ini disusun di rak rendah sehingga mudah dicapai oleh anak paling kecil sekalipun.

Meja dan kursi kelas hendaknya mudah diatur dan dipindah-pindah serta digerakkan untuk banyak kegiatan. Anak-anak juga bisa berkarya di atas tikar atau lapak kecil di lantai kelas.

Materi kelas Montessori dapat dikategorikan ke dalam tiga bagian utama: Practical Life Exercise; aktifitas awal untuk usia tiga dan empat tahun. The Sensorial Material; materi yang bisa digunakan oleh anak semua usia. The Academy Material; Untuk menyiapkan minat anak membaca, menghitung dan geographi.

PERAN GURU
Di kelas Montessori, tidak ada muka kelas dan meja guru bukan sebagai titik perhatian suara. Hal ini disebabkab stimulasi belajar dimulai dari semua sudut kelas. Dr. Montessori selalu menekankan guru agar bisa berperan sebagai pengarah (director) dan sangat berbeda dengan model guru konvensional. Pertama, guru berfungsi sebagai pengamat terhadap minat anak dan tugas sehari-harinya diproses berdasar pengamatan bukan dari kurikulum yang ada. Guru harus memiliki kecakapan mendemonstrasikan penggunaan materi secara tepat sebagaimana yang menjadi pilihan anak.Guru selalu mengamati kemajuan setiap anak dan mencatat prestasinya. Guru harus memahami kesiapan seorang anak dan juga pandai mengalihkan perhatiannya dalam hal memilih materi yang jauh berada di luar kemampuannya. Di sisi lain, guru harus mampu mendorong dan memberi semangat terhadap anak yang ragu-ragu. Bila anak melakukan kesalahan, sejauh dan sebisa mungkin guru menahan diri untuk melibatkan diri mengatasi secara langsung dan mendorongnya untuk menemukan kesalahannya melalui manipulasi self correcting. Proses ini mengikuti prinsip Montessori bahwa anak berkarya dan belajar melalui pengalaman.

PRILAKU ANAK
Di kelas Montessori selalu terdengar aktifitas yang cukup membisingkan disebabkan penggunaan materi pelajaran yang di dalamnya melibatkan banyak gerakan seperti; berjalan, menyiram, berbicara dan lebih khusus terhadap penggunaan tangan oleh tiap anak. Disiplin anak hendaknya didapat melalui observasi kerja ril. Prilaku anak bisa dikatakan mendekati tingkat maturitas bila anak tersebut memiliki ketertarikan yang kuat terhadap aktivitas kelas. Bila anak menunjukkan prilaku tidak wajar, guru sebaiknya membantu dan memilihkan aktivitas yang mempu menyerap perhatiannya secara penuh.

MENGAPA MENCAMPUR USIA?
Bila alat peraga kelas kurang memancing minat dan respon belajar seorang anak, hendaknya alat tersebut disesuaikan dengan bentuk standard yang pernah dikembangkan oleh anak tersebut pada pengalaman sebelumnya. Pengalaman dengan alat peraga di kelas sangat bervariasi di mana pilihan yang paling memuaskan hanya didapat oleh anak itu sendiri. Kelas Montessori memberi banyak ragam materi kepada anak-anak sebagai pilihan. Anak dapat tumbuh dan berkembang bilamana minat dan ketertarikannya mengikuti tingkatan aktivitas dari yang mudah hingga yang lebih kompleks.

Dengan mencampur anak antara usia tiga sampai enam tahun dalam satu kelas secara bersama akan membuka kemungkinan bagi anak yang lebih muda untuk meniru sementara anak yang lebih tua mendapat kesempatan memperkuat kembali ingatan dan pengetahuan dengan membantu anak yang lebih muda.

SUASANA KELAS YANG TIDAK KOMPETITIF
Karena anak bekerja sendiri tanpa keterlibatan guru secara penuh, maka di kelas Montessori tidak terdapat suasana kompetitif antar anak didik. Setiap anak hanya berhubungan dengan pekerjaannya sendiri dan prestasi pencapaiannya tidak dikomparasikan dengan prestasi anak yang lain. Montessori menekankan agar kompetisi dalam pendidikan hendaknya diperkenalkan setelah anak memperoleh rasa percaya diri dalam basic skill. Jangan biarkan anak menerima resiko kegagalan hingga dia memiliki kesempatan dan keberhasilan yang layak dan pantas.

MENGAKOMODASI ABILITAS YANG BERAGAM
Penggunaan materi secara individu memberi beragam langkah yang dapat mengakomodasi berbagai kemampuan di kelas. Bagi anak yang lamban, mungkin akan memakan waktu cukup lama saat bekerja dengan menggunakan peralatan yang sama tanpa menghambat anggota kelas lainnya. Anak yang cukup pandai dan agresif di kelas yang sama boleh menggunakan peralatan lain dengan cara berpindah-pindah dari peralatan satu ke peralatan lain sehingga terhindar dari rasa bosan. Anak yang memiliki kemampuan tinggi selalu tertantang dengan aneka peralatan dan fungsinya.

Fakta telah membuktikan bahwa anak prasekolah memiliki perkembangan maturitas dengan kecepatan berbeda. Begitu pula halnya dengan kesiapan subjek akademis. Karena materi disajikan dengan apik dan menarik, ada anak-anak di kelas Montessori mulai membaca dan menghitung pada usia yang tidak seperti biasanya. Namun belajar pada usia dini bukan hal normal dan bukan pula menjadi tujuan Montessori. Keinginan beliau adalah bahwa pengalaman belajar hendaklah berlangsung secara alami dan menyenangkan dengan waktu yang tepat terhadap perkembangan setiap anak. Kita tidak bisa mencetak orang menjadi jenius. Kita hanya dapat memberikan sebuah kesempatan kepada anak dengan mengisi kemungkinan potensinya menjadi manusia merdeka, bebas dan seimbang. (Masih berlanjut)

Penerjemah: Fury Qonzano
Silakan mengcopy dengan menuliskan penerjemah.
Trims

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s